Kamis, 05 Juli 2012


 Mempromosikan Bahasa Indonesia di Luar Negeri

Posted by PuJa on November 30, 2011
Ajip Rosidi
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/
Kerajaan Malaysia sejak lama memperlihatkan langkah-langkah positif untuk memajukan salah satu bahasa resminya, yaitu bahasa Malaysia. Di Malaysia, kecuali bahasa Malaysia (tadinya bahasa Melayu), bahasa Cina, Inggris, dan Tamil pun menjadi bahasa resmi. Akan tetapi, yang dikembangkan oleh pemerintah Malaysia hanya bahasa Malaysia.
Dalam memajukan bahasa Malaysia, pemerintah Malaysia sangat bersungguh-sungguh. Kecuali melakukan langkah-langkah di dalam negeri, baik dalam hal pendidikan bahasa dan sastra Malaysia di sekolah-sekolah serta di masyarakat maupun dalam usaha membina dan mendorong agar orang banyak menulis karya ilmu ataupun karya sastra dalam bahasa tersebut, mereka pun membuat berbagai langkah untuk menarik minat orang mancanegara terhadap bahasa Malaysia. Mereka menyediakan tenaga pengajar bahasa dan sastra Malaysia di berbagai perguruan tinggi di luar negeri yang mengajarkan bahasa Indonesia. Indonesia adem ayem saja menghadapi minat orang luar terhadap bahasa Indonesia, bersikap pasif dengan menyerahkan seluruh insiatif dan langkah (serta biaya) kepada asing, sedangkan Malaysia justru bersifat agresif. Di samping menyediakan tenaga pengajar (dengan biaya ditanggung oleh pemerintah Malaysia), asal perguruan tinggi yang bersangkutan membukakan pintu bagi pengajaran bahasa dan sastra Malaysia, pemerintah Malaysia juga menyediakan dana untuk mengundang para sarjana bahasa dan sastra Indonesia untuk memperhatikan dan membuat penelitian tentang bahasa dan sastra Malaysia yang hasilnya kemudian diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP). Karena sikap dan langkah itu, banyak ahli mancanegara tentang bahasa dan sastra Indonesia, “berhijrah” menjadi pemerhati, peneliti, dan penerjemah bahasa Malaysia, antara lain Dr. Monique Lajoubert dari Prancis, Dr. Wendy Mukherjee dan Harry Aveling dari Australia, Prof. Parnickel dari Rusia (sudah meninggal), dan lain-lain.
Oleh karena itu, kita tak usah merasa heran apalagi cemburu kalau ternyata perhatian orang dan sarjana asing terhadap bahasa dan sastra Malaysia kian meningkat sementara perhatian terhadap bahasa dan sastra Indonesia kian kecil. Kita merasa bangga kalau mendengar ada orang asing yang mempelajari dan menjadi pakar bahasa dan sastra nasional kita, tetapi kita tidak pernah memelihara minat itu agar terus tumbuh. Seakan-akan kita yakin bahasa dan sastra Indonesia itu begitu hebat dan begitu kaya isinya sehingga akan selalu menarik minat orang asing untuk mempelajarinya. Kita tidak melihat bahwa untuk bahasa-bahasa yang memang hebat dan memang kaya isinya seperti bahasa Inggris, bahasa Prancis, dan bahasa Jerman pun, pemerintahnya masih menganggap perlu untuk mempromosikannya di luar negeri dengan mengadakan lembaga yang khusus dan menyediakan biaya yang khusus pula.
Kita selalu mengatakan bahwa untuk kegiatan seperti itu tidak punya dana. Akan tetapi untuk menempatkan orang-orang sebagai wakil bangsa di negara-negara yang kebanyakan tak kita ketahui apa manfaatnya, ternyata selalu ada uang. Banyak perwakilan RI yang sebenarnya lebih baik ditutup karena hanya menghabiskan uang. Sebagai bangsa miskin yang hidupnya dari utang, tak perlulah kita bermegah-megah dengan membuka perwakilan (kedutaan, kedutaan besar, konsulat, ataupun konsulat jenderal) yang sama sekali tak efisien. Para diplomat homestaff kita banyak yang mendapat fasilitas yang sama dengan yang hanya diperoleh duta besar negara maju. Padahal yang dikerjakannya umumnya hanyalah urusan administrasi yang rutin, sehingga nasib bangsa kita yang menjadi TKI atau TKW di luar negeri baru menjadi perhatian mereka kalau sudah menjadi kasus di pengadilan atau sesudah bunuh diri – dan selalu terlambat dan tak pernah berhasil dibela.
Jadi yang tidak ada itu bukan dananya, melainkan kemauannya. Kemauannya tidak ada karena kita tidak mempunyai kesadaran akan arti kebudayaan, kesenian, dan bahasa serta sastra bagi bangsa. Kita menganggap kebudayaan itu hanya sebagai barang jadi, komoditi yang laku dijual, oleh karena itu kebudayaan disatukan dalam satu departemen dengan pariwisata. Kita menganggap kebudayaan itu sejenis dengan pariwisata, yaitu sesuatu yang digemari oleh orang asing yang untuk itu mereka bersedia mengeluarkan dolar. Yang menarik perhatian kita hanya dolar yang akan dihasilkannya. Kita tidak pernah menganggap kebudayaan itu sebagai proses yang memengaruhi eksistensi kita sebagai bangsa. Waktu disatuatapkan dengan pendidikan, kebudayaan hanyalah jadi pelengkap; tetapi rasanya masih lebih tepat daripada disatuatapkan dengan pariwisata.
Kenyataan bahwa dahulu kebudayaan disatuatapkan dengan pendidikan tetapi sekarang disatuatapkan dengan pariwisata menggambarkan alam pikiran kita sebagai bangsa, dahulu kita lebih idealistis, menempatkan kebudayaan sejajar dengan pendidikan. Akan tetapi, setelah kita menganggap pendidikan merupakan kegiatan bisnis yang bisa menghasilkan uang, pandangan kita terhadap kebudayaan juga berubah. Kita melihat kebudayaan sebagai sumber devisa. Ironisnya, berpindahnya kebudayaan disatuatapkan dengan pariwisata itu dilakukan ketika pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid yang konon budayawan.
Memang kita tidak tahu manusia macam apa sebenarnya “budayawan” itu. “Sastrawan” kita tahu, ialah orang yang berolah sastra. “Wartawan” kita tahu, ialah orang yang biasa membuat atau terlibat dengan kegiatan jual beli warta. “Dramawan” kita tahu, ialah orang yang aktif dalam bidang drama atau teater. “Seniman” kita tahu, ialah orang yang berkesenian, menciptakan kesenian. Akan tetapi “budayawan”? Asal ada orang yang tidak jelas masuk ke dalam “wan” yang lain, mudah saja disebut budayawan. Artinya budayawan adalah yang bukan sastrawan, yang bukan dramawan, yang bukan seniman, yang bukan wartawan….***
Penulis, budayawan /15 Jan 2011.

Sastra Indonesia


 Kartini dan Kesadaran Berbahasa

Posted by PuJa on November 30, 2011
Wildan Nugraha*
Pikiran Rakyat, 19 April 2009
LEPAS dari sosoknya yang bagi sementara pihak sangat lekat dengan kepentingan politik etis Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda, kesadaran berbahasa Kartini agaknya menjadi salah satu faktor yang membuatnya terus dikenang. Tanggal ulang tahunnya, 21 April, di negeri ini identik dengan namanya; nama seorang perempuan ningrat yang lahir di Jepara pada 1879.
Dalam salah satu suratnya kepada Stella Zeehandelaar, Kartini mengungkapkan bahwa selain bahasa Belanda yang sudah dikuasainya, dia pun ingin pula mahir berbahasa asing lainnya, yakni bahasa Prancis, Inggris, dan Jerman. Bukan karena agar pandai bercakap-cakap dalam bahasa itu, melainkan supaya dapat membaca buah pikiran penulis-penulisnya.
Antara lain lewat kesadaran berbahasa itulah Kartini menemukan ketidakberesan dalam masyarakatnya. Meski dikungkung adat, mata Kartini lebar terbuka melihat dunia luas di luar Jepara, teristimewa kepada dunia Barat, dan hal itu menyuburkan daya kritis dalam nuraninya. “Adat sopan santun orang Jawa amat sukar,” ujar (Raden Ajeng) Kartini kepada Stella dalam surat bertanggal 18 Agustus 1899.
Tentang feodalisme yang sangat mengakar di lingkungannya Kartini menggambarkan, misal, bila adiknya sedang duduk di kursi dan dia berjalan melewatinya, maka sampai kakaknya berlalu sang adik harus turun duduk di tanah sambil menundukkan kepalanya. Sementara, seorang gadis Jawa yang baik jalannya harus perlahan-lahan dengan langkah yang pendek-pendek seperti siput layaknya. Lalu dalam hal berbahasa pun, Kartini menyadari bahwa bahasa yang bertingkat-tingkat di lingkungannya itu menghadirkan sekat-sekat kemanusiaan: seseorang akan “berdosa” bila memakai bahasa Jawa rendah (ngoko) kepada sembarang orang.
Akan tetapi, Kartini bukan seorang “radikal”. Dia tidak lantas membenci kejawaannya. “Boleh jadi seluruh badan kami sudah dijiwai pikiran dan perasaan Eropa; tetapi, darah, darah Jawa yang hidup dan mengalir hangat dalam tubuh kami ini, sekali-kali tidak dapat dihilangkan. Kami merasainya pada harum kemenyan dan semerbak bunga, pada lagu-lagu gamelan, pada irama angin ketika meresak pucuk-pucuk pohon kelapa, pada dekut perkutut, pada waktu batang padi bersiul, saat lesung padi berdentung-dentung,” ungkap Kartini dalam satu suratnya kepada Rosa Manuela Abendanon. Pun, Kartini menghargai orang tua dan kakak-kakaknya dengan menuruti semua adat Jawa dengan tertib. Tapi sebagai sebentuk perlawanan, kata Kartini kepada Stella, “Mulai dari aku ke bawah, kami langgar seluruhnya adat itu.”
Salah satu hal yang ditekankan Kartini adalah mengenai pencerahan akal budi, sebuah inti dari pemikiran modern yang tengah berkembang di Eropa pada masa itu, yang membayang kuat di benak Kartini. “Kemajuan peradaban,” katanya kepada Nyonya Ovink-Soer, “didapat bila kecerdasan pikiran dan kecerdasan budi sama-sama dimajukan.” Lantas, soal mempertinggi derajat budi manusia, Kartini kerap menyoal ihwal kesadarannya dalam berkeyakinan.
Kepada Stella dalam suratnya bertanggal 6 November 1899, misalnya-dan terbaca juga dalam surat-suratnya kepada Nyonya Abendanon-Kartini melihat bahwa kepada masyarakat di tempatnya keteguhan taklid lebih kuat ditanamkan ketimbang keteguhan yang dilandasi kesadaran. Bagaimana mungkin seseorang bisa mencintai keyakinannya bila tidak mengenalnya, ungkapnya. “Orang-orang di sini diajarkan membacanya, tapi tidak diajarkan maknanya,” katanya. “Pikirku, itu pekerjaan gila.” Banyak lagi Kartni menuliskan kegundahannya mengenai realitas di sekelilingnya yang dengan tersirat dia sandarkan kepada keyakinannya. “Papa orang yang tidak dapat mengerti, bahwa kecuali ada keluhuran dalam derajat dan pangkat, masih ada keluhuran lain yang meniadakan segala-galanya,” tulisnya kepada Nyonya Abendanon, 13 Agustus 1900.
Kesadaran berbahasa memang merupakan sesuatu yang penting. Dalam hal Kartini, kesadaran ini tak bisa dilepaskan dari kebiasaannya berkorespondensi dengan sahabat-sahabat penanya. Mungkin kita bisa menganggap semua peristiwa yang dialami seseorang sebagai peristiwa yang acak; dan kebiasaan menulis sebagai salah sebuah upaya merefleksikan peristiwa-peristiwa acak tersebut. Mengutip Bambang Sugiharto (1996), bahasa dapat membantu memperdalam peristiwa-peristiwa acak seseorang lewat refleksi dan dengan mengangkat segala hal partikular ke taraf konsep yang bersifat umum. Deskripsi membantu agar pengalaman menemukan bentuknya; dia dapat mengangkat makna tersembunyi di dalam input indrawi yang acak-acakan saat seseorang mengalami sesuatu peristiwa, dan dengan begitu deskripsilah yang menjadikan seseorang memahami pengalaman, atau yang membuat segala peristiwa acak menjadi “pengalaman”.
Bambang Sugiharto mencontohkan, misalnya, pengalaman membaca buku bisa berubah banyak manakala seseorang harus membuat ulasan tentangnya. Tulisan ulasan yang dibuat itu dengan sendirinya akan mengintensifkan pengalaman membaca dengan mengangkatnya ke taraf refleksi. Maka Kartini, bila demikian, dengan surat-suratnya yang luar biasa dia kerjakan, setidaknya jika betul selama empat atau lima tahun terakhir masa hidupnya-dia wafat dalam usia 25 pada 17 September 1904-seakan tidak berhenti melakukan refleksi atas “peristiwa-peristiwa acak” yang didapatkannya sehari-hari.
Gagasan-gagasan kritis Kartini, terutama tentang pentingnya pendidikan, posisi sentral kaum perempuan dalam masyarakat yang beradab, dan nilai-nilai filosofis transendental didapatkan dari kekayaan pergaulan dan bacaannya; hal yang mungkin sukar dia peroleh bila tidak disokong oleh kesadarannya dalam berbahasa. “Bahasa adalah rumah tempat tinggal sang Ada,” kata Martin Heidegger (1889-1976). Bila benar, demikian sahut Bambang Sugiharto, maka bahasa adalah rumah bagi pengalaman-pengalaman yang bermakna. Pengalaman yang telah diungkapkan adalah pengalaman yang telah mengkristal, menjadi semacam “substansi” tertentu. Dengan kata lain, pengalaman itu tidak bermakna bila tidak menemukan “rumah”-nya dalam bahasa. Sebaliknya, tanpa pengalaman nyata bahasa adalah ibarat kerang yang kosong tanpa kehidupan.***
* Wildan Nugraha, cerpenis bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) Bandu
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2009/04/kartini-dan-kesadaran-berbahasa.html

Sastra Indonesia


 Gadis Kecil yang Mencintai Nisan

Posted by PuJa on March 31, 2012
Pengarang : Jusuf AN
Tebal : x + 94 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Penerbit : Indie Book Corner
Tahun terbit : 2012`
http://www.kompasiana.com/jusuf_an
Alhamdulillah, setelah menunggu cukup lama, akhirnya kumpulan cerpen “Gadis Kecil yang Mencintai Nisan” terbit. Buku tersebut memuat 11 cerpen yang semuanya pernah di muat di media cetak-koran, tabloid dan majalah.
Berikut semacam pengantar yang terdapat dalam kumcer ini:
Jusuf AN kembali melahirkan sebuah karya sastra, kali ini merupakan sebuah kumpulan cerpen. Antologi cerpen ini merupakan salah satu naskah yang menjadi pemenang Sayembara Buku Indie 2011 yang diselenggarakan oleh Indie Book Corner.
Kumpulan cerpen yang diberi judul Gadis Kecil yang Mencintai Nisan ini memang banyak mengeksplorasi perempuan di dalam karyanya, terutama cerpen. Terbukti, hampir semua cerpen dalam buku ini memiliki keterkaitan dengan dunia dan persoalan perempuan. Perempuan-perempuan di dalam cerpen Jusuf AN bukanlah perempuan yang pasif, tapi juga bukan perempuan yang terlalu agresif. Jusuf AN bertutur dengan gaya realis tentang dunia perempuan pada umumnya. Ia tak menggarap gaya hidup perempuan kelas atas, affair, perselingkuhan kelas mewah, atau kecanggihan mereka di dunia kerja. Jusuf AN menampilkan sisi-sisi yang tampak pada perempuan, sabar, namun juga pemberontak, keras tapi juga penurut, penuh kenangan dan memiliki sisi romanisme.
Gaya bercerita Jusuf AN dalam beberapa cerpen dalam buku ini meletakkan perempuan sebagai orang yang bicarakan oleh tokoh-tokoh utamanya. Ia menampilkan sisi psikologis perempuan kelas menengah ke bawah, walau ada juga satu-dua cerpen yang menampilkan perempuan elite, tetapi bukan itu yang sebenarnya ingin disasar. Meski bicara soal perempuan, Jusuf AN adalah seorang penulis yang mampu memotret persoalan sosial. Lokalitas tidak ditempatkan pada sesuatu yang asing dan melulu dikritik. Ia hadir sebagaimana adanya. Jusuf AN menampilakn realitas ke dalam cerpennya yang membuat kita tercengang dan takjub pada hal-hal remeh yang tak terperhatikan, seperti dalam cerpen Sawan Manten.
Gadis Kecil yang Mencintai Nisan karya Jusuf AN memotret hal-hal sederhana dengan bahasa yang cukup sederhana juga. Hal-hal religius tertanam kuat dalam karya-karyanya secara eksplisit. Dia tidak mendakwai tetapi mencoba mengajak pembacanya merenungkan hal-hal yang dekat dengan kita dan bahkan yang teralami langsung oleh pembaca.
***
Membaca kumpulan cerpen di buku ini, kita diajak untuk kembali menjadi ‘orang awam’, yang melihat keseharian tanpa pretensi apa-apa. Kita disuguhi kisah-kisah romantic dan menikmatinya di sudut kamar. Kita seperti diingatkan bahwa sebetulnya kehidupan ini sederhana saja, kitalah yang membuatnya rumit dan penuh prasangka..” (Yanusa Nugroho, Cerpenis)
Jusuf adalah seorang pencerita dengan gaya yang sederhana. Menulis dengan bahasa sederhana nan lancar, plot sederhana minim tikungan, penokohan sederhana tak melangit, konflik sederhana tanpa debar, dan pesan sederhana dalam siratan. Dengan kesederhanaan itu pembaca yang sibuk mengejar dunia seakan diajaknya untuk sejenak ‘pulang’ dan beristirah, merenung kembali akan hakikat tujuan perjalanannya. (Diana AV Sasa, Kerani d-Buku, Surabaya)
Harapan saya, kumpulan cerpen tersebut bisa turut meramaikan khasanah kesusastraan tanah air dan bermanfaat bagi pembaca.
Kawan Kompasianers yang mau pesan buku tersebut bisa inbox. Harga : 35.000 (belum diskon 10%)
Dijumput dari: http://media.kompasiana.com/buku/2012/03/19/gadis-kecil-yang-mencintai-nisan/

Sastra Indonesia


 Gadis Kecil yang Mencintai Nisan

Posted by PuJa on March 31, 2012
Pengarang : Jusuf AN
Tebal : x + 94 halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Penerbit : Indie Book Corner
Tahun terbit : 2012`
http://www.kompasiana.com/jusuf_an
Alhamdulillah, setelah menunggu cukup lama, akhirnya kumpulan cerpen “Gadis Kecil yang Mencintai Nisan” terbit. Buku tersebut memuat 11 cerpen yang semuanya pernah di muat di media cetak-koran, tabloid dan majalah.
Berikut semacam pengantar yang terdapat dalam kumcer ini:
Jusuf AN kembali melahirkan sebuah karya sastra, kali ini merupakan sebuah kumpulan cerpen. Antologi cerpen ini merupakan salah satu naskah yang menjadi pemenang Sayembara Buku Indie 2011 yang diselenggarakan oleh Indie Book Corner.
Kumpulan cerpen yang diberi judul Gadis Kecil yang Mencintai Nisan ini memang banyak mengeksplorasi perempuan di dalam karyanya, terutama cerpen. Terbukti, hampir semua cerpen dalam buku ini memiliki keterkaitan dengan dunia dan persoalan perempuan. Perempuan-perempuan di dalam cerpen Jusuf AN bukanlah perempuan yang pasif, tapi juga bukan perempuan yang terlalu agresif. Jusuf AN bertutur dengan gaya realis tentang dunia perempuan pada umumnya. Ia tak menggarap gaya hidup perempuan kelas atas, affair, perselingkuhan kelas mewah, atau kecanggihan mereka di dunia kerja. Jusuf AN menampilkan sisi-sisi yang tampak pada perempuan, sabar, namun juga pemberontak, keras tapi juga penurut, penuh kenangan dan memiliki sisi romanisme.
Gaya bercerita Jusuf AN dalam beberapa cerpen dalam buku ini meletakkan perempuan sebagai orang yang bicarakan oleh tokoh-tokoh utamanya. Ia menampilkan sisi psikologis perempuan kelas menengah ke bawah, walau ada juga satu-dua cerpen yang menampilkan perempuan elite, tetapi bukan itu yang sebenarnya ingin disasar. Meski bicara soal perempuan, Jusuf AN adalah seorang penulis yang mampu memotret persoalan sosial. Lokalitas tidak ditempatkan pada sesuatu yang asing dan melulu dikritik. Ia hadir sebagaimana adanya. Jusuf AN menampilakn realitas ke dalam cerpennya yang membuat kita tercengang dan takjub pada hal-hal remeh yang tak terperhatikan, seperti dalam cerpen Sawan Manten.
Gadis Kecil yang Mencintai Nisan karya Jusuf AN memotret hal-hal sederhana dengan bahasa yang cukup sederhana juga. Hal-hal religius tertanam kuat dalam karya-karyanya secara eksplisit. Dia tidak mendakwai tetapi mencoba mengajak pembacanya merenungkan hal-hal yang dekat dengan kita dan bahkan yang teralami langsung oleh pembaca.
***
Membaca kumpulan cerpen di buku ini, kita diajak untuk kembali menjadi ‘orang awam’, yang melihat keseharian tanpa pretensi apa-apa. Kita disuguhi kisah-kisah romantic dan menikmatinya di sudut kamar. Kita seperti diingatkan bahwa sebetulnya kehidupan ini sederhana saja, kitalah yang membuatnya rumit dan penuh prasangka..” (Yanusa Nugroho, Cerpenis)
Jusuf adalah seorang pencerita dengan gaya yang sederhana. Menulis dengan bahasa sederhana nan lancar, plot sederhana minim tikungan, penokohan sederhana tak melangit, konflik sederhana tanpa debar, dan pesan sederhana dalam siratan. Dengan kesederhanaan itu pembaca yang sibuk mengejar dunia seakan diajaknya untuk sejenak ‘pulang’ dan beristirah, merenung kembali akan hakikat tujuan perjalanannya. (Diana AV Sasa, Kerani d-Buku, Surabaya)
Harapan saya, kumpulan cerpen tersebut bisa turut meramaikan khasanah kesusastraan tanah air dan bermanfaat bagi pembaca.
Kawan Kompasianers yang mau pesan buku tersebut bisa inbox. Harga : 35.000 (belum diskon 10%)
Dijumput dari: http://media.kompasiana.com/buku/2012/03/19/gadis-kecil-yang-mencintai-nisan/

Sastra Indonesia


 Diam sebagai Puncak Perlawanan

Posted by PuJa on March 31, 2012
Tjahjono Widarmanto
http://www.suarakarya-online.com/
“Kita telah melawan,
Nak, Nyo, sebaik-baiknya,
sehormat-hormatnya”

Perempuan itu bernama Nyai Ontosoroh ia telah melakukan perlawanan hampir sepanjang hidupnya. Perlawanan melawan nasib dantakdirnya. Dengan penuh kesadaran mencoba mengubah nasibnya melawan berbagai kemungkinan. Saat nasib mengantarkannya menjadi gundik Mellema, seorang amtenar Belanda ia hanya pasrah menerima takdirnya.
Namun, dibalik sikap pasrahnya, berbekal ambisi dan dendam sekaligus sedikit diuntungakan dengan politik etis tuannya, ia mengubah nasibnya menjadi seorang pengusaha partikulir yang besar. Perlawanan yang dilakukan adalah perlawanan yang diam-diam, tidak hiruk pikuk, namun dilakukannya sepanjang hidupnya. Dia berhasil memunculkan dirinya sebagai sosok yang baru, dari sekedar perempuan dusun biasa menjadi sosok penentu dalam pengambilan keputusan besar bersangkut paut dengan investasi, produksi, dan distribusi. Dia berhasil memunculkan identitasnya yang baru walaupun harus melakoni bahkan melampaui segala citra busuk seorang Nyai.
Perlawanan yang dilakukannya bukanlah perlawanan yang frontal, namun sebuah perlawanan yang mengalir bersama sebuah penerimaan pada takdir. Pasrah tak sekedar diam dan menangisi nasib, namun dalam pasrah muncul sebuah perlawanan yang diam .
Diamnya Nyai Ontosoroh sebagai seorang perempuan Jawa yang memunculkan perlawanan dibalik sikap pasrah, barangkali bisa dipahami saat kita melihat sosok Gendhari (Gendari) dalam cerita pewayangan. Ketika ia diperdaya oleh Bhisma untuk diperistri seorang Deatarata yang buta, seorang yang lemah, seorang yang ringkih dibawah bayang-bayang keagungan Bhisma dan keperkasaan Pandu. Gandhari tak bisa menolak takdir itu. Dan tak bisa menggugat suratan tangannya. Gandhari dalam pasrahnya menanggung kesewenang-wenangan nasib dan sejarah, menemukan satu cara melawan. Ia memutuskan untuk selamanya menutup kedua matanya dengan seuntai kain hitam, sampai mati agar tak melihat apa-apa.
Namun, sejak itu, Gandhari bersama adiknya, Sengkuni, dengan cerdiknya disusunnya sebuah skenario baru, muslihat yang halus, yang kelak akan melahirkan episode-episode sedih bagi anak-anak Pandu serta membentangkan kematian Bhisma dalam sebuah pertempuran maha dahsyat. Dalam diri manusia Jawa memang selalu muncul kontradiksi-kontradiksi, dalam diri manusia Jawa selalu muncul kontras dan tumpang tindih.
Di balik diam ada perlawanan, di balik kelembutan muncul kekejian. Sebuah serat bernama Centhini menggambarkan ketumpangtindihan itu. Di dalam Centhini bisa dilihat betapa manusia Jawa itu penuh kontras, tumpang tindih antara raga dan roh, antara yang sensual dan spiritual, antara lembut dan tajam, antara yang alim dan alami, antara Jawa dan Islam.
Pada Centhini melalui pengembaraan Amongraga dari Giri, kita bisa melihat deskripsi ajaran sufistik, deskripsi cara ibadah, deskripsi makanan, hinga deskripsi seks yang gila. Kontras yang paling mencolok ada pada pupuh 362, bait-bait saat Amongraga bersama istrinya, Tembang Raras, berada di biliknya yang tertutup. Ada adegan para santri yang menyanyi dan menari seakan-akan memberikan latar musik pada adegan ranjang Amongraga dan Tembang Raras.
Dan, di bilik itu tak ada yang erotik. Hari itu, sama seperti 39 malam lainnya kedua suami istri itu tak bersenggama sama sekali. Pria alim itu hanya nembang mewejang istrinya. Namun diluar ada Jayengraga, lelaki tampan yang merasakan desakan libido yang dahsyat.Dalam situasi ereksi luar biasa ia gagal meniduri isteri dan selirnya yang sedang datang bulan, dan akhirnya melampiaskan nafsunya ke pantat dua pemuda penggiringnya. Ia orgasme dan subuh tiba, adegan homoseksual itu berpindah, Jayengraga mandi. Mengambil wudhu, dan shalat bersama santri lainnya.
Pada akhirnya dapat dilihat bahwa Centhini menampakkan penggambaran situasi kejiwaan yang kontras dan tumpang tidih pada manusia jawa. Persis kita jumpai pada Nyai Ontosoroh dan Gendhari yang memunculkan sebuah kontras yaitu : diam dan sebuah perlawanan. Sebuah pasrah dan sebuah dendam! ***
______________31 Maret 2012
Tjahjono Widarmanto Lahir di Ngawi, 18 April 1969. Alumnus IKIP Negeri Surabaya (sekarang UNESA). Pendidikan Pascasarjananya diselesaikan tahun 2006. Tulisan-tulisannya burapa essai budaya, sosial, pendidikan, dan puisi dimuat diperbagai media antara lain Kompas, Republika, Jawa Pos, Surya, Suara Karya, Kedaulatan Rakyat,Pikiran Rakyat ,Harian SINDO, Bernas, Suara Pembaruan, Harian Sindo, Bahana (Brunai), Perisa (Malaysia) dan Horizon

Pendudukan Jepang di Indonesia

OPINI | 21 April 2012 | 19:21 Dibaca: 893   Komentar: 0   1 dari 1 Kompasianer menilai bermanfaat
Pendudukan Jepang di Indonesia sejak 9 Maret 1942 merupakan rangkaian politik imperialismenya di Asia Tenggara. Sebagai akibat dari kemajuan industri Jepang yang pesat ditempuhlah strategi ekspansi untuk mencari bahan mentah dan daerah pemesaran baru juga sumber pangan Jepang. Menguatnya ambisi militerisme Jepang disamping didorong konstalasi politik di Jepang sendiri yang memungkinkan hal itu terjadi. Dalam kerangka politik makro , imperialisme Jepang memiliki hubungan erat dengan dokumen Tanaka , yaitu dokumen tentang rencana ekspansionisme Jepang.
Invasi ke Indonesia merupakan bagian dari kerangka politik ekspaansionisne Jepang di Asia Tenggara. Cita-cita Jepang membangun Kawasan Persemakmuran Bersama Asia Timur Raya dibawah naungannya dicoba dan direalisasikan dengan mencetuskan perang Asia Timur Raya.
a. Pengaruh Pendudukan Jepang Terhadap Kehidupan Sosial dan Ekonomi
Pendudukan Jepang di Indonesia telah merobek-robek sendi-sendi nilai ekonomi, sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena menguras harta dan tenaga rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia merasakan malapetaka baru dengan merasakan penderitaan dan kesengsaraan yang luar biasa bagi rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia merasakan kekurangan pangan dan sandang yang kemudian mengakibatkan kelaparan dan kematian serta penderitaan moral .
Kebijakan Jepang terhadap rakyat Indonesia mempunyai dua prioritas yaitu :
• menghapuskan pengaruh Barat dikalangan rakyat Indonesia
• memobilisasi rakyat Indonesia demi kemenangan Jepang dalam perang Asia Timur Raya
Jepang melakukan propaganda yang intensif untuk menyakinkan rakyat Indonesia bahwa bangsa Jepang adalah saudara tua seperjuangan melawan Barat. Namun kenyataannya semua tindakan dan perlakukan menimbulkan penderitaan rakyat Indonesia. Politik Jepang untuk mengatur ekonomi masyarakat terwujud dalam politik penyerahan padi secara paksa yang berakibat kemiskinan endemis, menurunnya derajat kesehatan, dan meningkatnya angka kematian serta berbagai penderitaan fisik dalam pengerahan tenaga kerja romusa , perekrutan pemuda dan masyarakat desa dalam latihan kemiliteran untuk kemenangan perang Asia Timur Raya.
Pada awal pendudukan Jepang , mengambil dua langkah penting , yaitu pertama menstabilkan kondisi ekonomi yang terlihat dari upayanya untuk menguasai inflasi ekonomi dengan menetapkan patokan harga bagi sebagian besar barang dan menangani dengan keras penimbun barang. Kedua Jepang mengeluarkan aturan produk hukum baru sesuai dengan kepentingan pendudukan Jepang di Indonesia. Selama pendudukan Jepang mengekang berbagai organisasi di Indonesia. Dengan kaum nasionalis diadakan kerjasama dengan tujuan bersatu dan berdiri sepenuhnya dibelakang Jepang serta memperlancar pekerjaan pemerintahan militer. Jepang menyuruh kaum nasionalis untuk turut aktif didalam pemerintahan Gunsei. Dalam pemerintahan Gusei ini muncul tokoh seperti Ir. Soekarno.
b. Pengaruh Pendudukan Jepang Terhadap Pergerakan Nasional
Pertemuan di Bukit Tinggi , Ir Soekarno dengan Jepang isinya Jepang tidak menghalangi dalam membina Indonesia Merdeka. Hal ini Ir Soekarno dan Moh. Hatta mengambil keputusan untuk menjadikan perselisihan pahamnya Partindo dan PNI Baru untuk diakhir dan bersatu memimpin rakyat Indonesia dimasa sulit itu , persatuan keduanya dikenal dengan nama Dwi Tunggal. Soekarno-Hatta. Kerjasama Ir Soekarno dengan Jepang dimulai dalam Komisi yang menyelidiki adat istiadat dan tata negara yang dibentuk oleh Gunsei pada tanggal 8 Nopember 1942. Komisi itu beranggotakan 13 orang antara lain : Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Sutarjo Kartohadikusumo, Abikusno Cokrosuyoso, KH Mas Mansyur, Ki Hajar Dewantoro, Prof. Husein Joyodiningrat, Dr. RNg.Purbocaroko, Mr. Supomo. Dari anggota tersebut dikenal sebagai empat serangkai yaitu Ir. Soekarno, Moh. Hatta, KH.Mas Mansyur dan Ki Hajar Dewantoro. Empat serangkai diberi kepercayaan untuk memimpin gerakan Pusat Tenaga Rakyat (Putera) yang dibentuk 9 Maret 1943 , atas usul Ir. Sorkarno. Tujuan Putera ialah mempersatukan rakyat Jawa untuk menghadapi serangan Sekutu yang semakin dekat dengan Indonesia (Jawa). Tugas Putera menggerakan tenaga dan kekuatan rakyat untuk memberi bantuan kepada usaha-usaha untuk mencapai kemenangan akhir dalam perang Asia Timur Raya. Dengan demikian Jepang dapat menggunakan para pemimpin Indonesia untuk menanamkan kekuasaannya. Sebaliknya para pemimpin tidak mau begitu saja diperalat Jepang , mereka menggunakan sarana Jepang guna tetap berjuang mendapatkan kemerdekaan Indonesia. Karena pada masa itu , masa sulit dalam pergerakan nasional Indonesia. Karena bangsa Indonesia dalam kondisi yang sangat lemah jalan yang terbaik yang ditempuh dengan kerjasama dengan Jepang, dari kerjasama ini hanyalah sebuah alat untuk mempercepat proses kemerdekaan Indonesia yang telah lama mereka perjuangkan. Lembaga yang diciptakan Jepang seperti Java Hookokai (kebangkitan rakyat Jawa ), Putera, Peta, Fujinkai (perkumpulan kaum wanita), Keibodan (barisan pemuda membantu polisi, kebakaran, dan serangan udara pembantu) , Seinendan (korp pemuda semi militer) , Heiho (pasukan pembantu ) dan sebagainya justru dimanfaatkan para pejuang ini untuk memupuk semangat kebangsaan guna memudahkan jalan untuk mencapai kemerdekaan.
Sebagai bagian dari politik Jepang , memanfaatkan sumber daya manusia dengan mobilisasi massa pemuda dan rakyat secara besar-besaran dalam program-program latihan semi militer. Tujuannya sebagai tenaga cadangan bagi kepentingan militer Jepang. Mobilisasi masa rakyat terbagi dalam Seinendan , Keibodan, Fujinkai dan Peta (Pembela tanah Air) yang telah mendorong rakyat memiliki keberanian, sikap mental untuk menentang penjajah, pemahaman terhadap kemerdekaan maupun sikap mental yang mengarah pada terbentuknya nasionalisme.
Sedangkan kelompok pejuang lain yang menolak bekerjasama dengan Jepang dan anti fasisme membentuk jaringan bawah tanah dan terus berjuang , antara lain :
• Kelompok Syahrir , memiliki pengikut kaum pelajar diberbagai kota seperti Jakarta, bandung, Surabaya, Cirebon dan sebagainya .
• Kelompok Amir Syarifudin , ia sangat keras dalam mengeritik Jepang, tahun 1943 ditangkap dan dijatuhi hukuman mati tahun 1944 , atas bantuan Soekarno hukumannya diubah dari hukuman mati menjadi seumur hidup , setelah Jepang menyerah kepada Sekutu tahun 1945 , ia bebas dari hukuman.
• Golongan Persatuan mahasiswa , sebagaian besar dari kedokteran di Jakarta antara lain : J. Kunto, Supeno, Subandrio
• Kelompok Sukarni , kelompok ini sangat berperan besar disekitar proklamasi kemerdekaan , antara lain : Sukarni, Adam Malik, Chaerul Saleh, Maruto Nitimiharjo, Pandu Wiguna dan sebagainya.
• Golongan Kaigun , anggotanya bekerja pada angkatan laut Jepang akan tetapi terus menggalang dan membina kemerdekaan dengan tokoh yang simpati terhadap kemerdekaan Indonesia, antara lain : Mr.Akhmad Subarjo, Mr. Maramis, Dr. Sanusi, Dr Buntaran Martoatmodjo dan sebagainya
• Pemuda Menteng , bermarkas di Menteng 31 Jakarta , kebanyakan pengikut dari Tan Malaka dari Partai Murba antara lain : Adam malik , Chairul Saleh dan Wikana
Meskipun perjuangan mereka dalam kelompok-kelompok dan berbeda-beda strateginya bukan berarti perpecahan. Taktik yang mereka lakukan mempunyai tujuan yang sama yaitu mencapai kemerdekaan Indonesia.
Pada Tanggal 7 September 1944 , Perdana Menteri Jepang Koiso menjanjikan kemerdekaan bagi Hindia Timur atau Indonesia, namun kapan waktunya belum ditentukan. Tentara Jepang terus terdesak menuju kekalahan , mulai berperang sendirian dan semakin terdesak , sehingga agar Jepang memperoleh dukungan dari rakyat Indonesia membentuk Dokuritzu Zyoombi Tsooskai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 29 April 1945 , tugasnya mengumpulkan bahan yang dipergunakan untuk Indonesia Merdeka.
c. Perlawanan Rakyat Terhadap Pendudukan Jepang
Karena Jepang hanya mengeluarkan janji-janji kosong , mensenggarakan rakyat, menghisap tenaga rakyat untuk kepentingan perang, dan menguras habis kekayaan rakyat Indonesia. Banyak rakyat yang tidak tahan lagi menghadapi kesengsaraan melakukan pemberontakan .
 Pemberontakan Cot Pilieng , Aceh
Seorang guru mengaji dan ulama muda bernama Tengku Abdul Djalil pada tanggal 10 Nopember 1942 memimpin rakyat Aceh melayan Jepang. Dengan bersenjatakan pedang , rencong dan kelewang rakyat dapat memukul mundur pasukan Jepang sehingga mereka terpaksa kembali ke Lhokseumawe. Serangan kedua Jepang juga dapat dipukul mundur rakyat Aceh dibawah Tengku Abdul Djalil.
 Pemberontakan Rakyat Singaparna
Pemberontakan yang dipimpin K.H Zainal Mustafa , seorang pemimpin pesantren di Sukamanah Singaparna Tasikmalaya Jawa Barat. K.H Zainal Mustafa bertekat untuk melawan Jepang karena tidak tahan lagi melihat kehidupan rakyatnya yang sengsara. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 25 Februari 1944 setelah sholat Jumat. Dalam pertempuran antara pasukan Zainal Mustafa dengan tentara Jepang banyak tentara Jepang yang terluka dan tewas , namun banyak juga rakyat yang gugur setelah mengadakan perlawanan dengan gigih melawan Jepang. Zainal Mustafa ditangkap selanjutnya dimasukkan tahanan , kemudian di pindahkan ke Jakarta. Zainal Mustafa dihukum mati dan dimakamkan di Ancol. Saat ini makamnya telah dipindahkan ke daerah asalnya di tengah-tengah rakyat yang telah dibelanya dengan taruhan nyawa.
 Pemberontakan rakyat Indramayu
Pada bulan Juli 1944 rakyat Indramayu juga memberontak terhadap Jepang. Rakyat Lohbener dan Sindang Indramayu Jawa Barat memberontak kepada Jepang karena mereka tidak tahan lagi dengan perlakuan yang kejam dari Jepang.
 Pemberontakan Teuku Hamid , pada bulan Nopember 1944 di Aceh meletus pemberontakan dengan Jepang lagi. Dalam pemberontakan tersebut banyak rakyat yang menjadi korban , karena hamper semua yang tertawan dibunuh oleh Jepang.
 Pemberontakan Peta Blitar.
Pada tanggal 14 Februari 1945 di Blitar seorang Syodanco (komandan peleton) Peta bernama Supriyadi memimpin suatu pemberontakan melawan Jepang. Pemberontakan ini timbul karena anggota Peta sudah tidak tahan lagi melihat kesengsaraan rakyat. Banyak romusa yang meninggal selama dipekerjakan didaerah mereka. Sayang sekali pemberontakan terbesar pada zaman Jepang ini mengalami kegagalan karena persiapannya belum matang. Pemberontakan Supriyadi (Peta di Blitar ) telah gagal tetapi membawa pengaruh sangat besar terutama pada semangat kemerdekaan rakyat Indonesia terhadap penindasan bangsa asing.

Revolusi Industri

* Perubahan penggunaan tenaga manusia dan hewan menjadi tenaga mesin
* Sebelum revolusi Industri:
                a. Revolusi agraria
                b. Penemuan-penemuan baru
                c. Serikat Sekerja [gilda]
* Gilda-gilda menyatu menjadi feodal[tuan-tuan tanah] lalu menjadi negara.
* Bapak Revolusi: James Watt
* Keadaan alam yang menunjang revolusi Industri di Inggris:
                1. Inggris memiliki baranga tambang banyak [batu bara]
                2. Mengubah tanah pertanian-->peternakan[rev agraria]-->biri-biri 
                   diambil bulunya-->dijadikan wool untuk textile

* Faktor politik pendorong:
                1. Pergantian pemerintahan. Pemerintahan keluarga baru mendukung rev. industri
                2. Inggris punya tanah jajahan yang sangat banyak

* Tahap-tahap revolusi Industri:
                1. Sistem domestic/ home Industri
                   -Dikerjakan di keluarga,peralatan sendiri, hasil untuk sendiri&dijual
                2. Industri manufucture
                   -Dikerjakan sekelompok orang akibat ada permintaan. Dikerjakan di rumah 
                   produksi.
                3. Factory sistem
                   -Pengolahan industri dengan mesin berat dan canggih. Disalurkan melalui 
                   agen resmi

*Dampak revolusi industri:
                1. Dampak politik:
                                1. Persaingan menguasai tanah jajahan
                                2. Faham kapitalisme[penanaman modal]
                                   -tanah jajahan untuk tempat penanaman modal, 
                                   pemasaran hasil industri, sumber bahan mentah

                2. Dampak sosial:

                                1. muncul pusat-pusat industri
                                2. Urbanisasi
                                3. Polusi udara
                                4. peningkatan mutu kualitas kehidupan masyarakat
                                5. nasib buruh tidak diperhatikan, terutama pengunaan buruh anak-anak dan wanita
                                6. muncul kawasan idustri "Black Country"
                                7. muncul revolusi sosial untuk memperbaiki nasib buruh [tokoh: Robert Owen]
                                8. muncul 2 lapisan masyarakat: buruh[partai buruh] dan penguasa[partai liberal]